If Your Heart is Empty, Your Brain Doesn’t Really Matter

Saya pernah punya teman baik, pria, saat SMU. John namanya. Orangnya pintar, suka melucu, kalau tertawa pasti terdengar sampai kemana-mana. πŸ˜€ John agak kemayu. Tapi bukan kemayu keterlaluan seperti salah satu pembawa acara televisi itu. Karena John agak kemayu, maka kebanyakan temannya adalah perempuan.

Meskipun agak kemayu, John ini pria tulen. Dia menyukai perempuan tulen. Bukan perempuan ‘ecek-ecek’ apalagi ‘jadi-jadian’. πŸ˜€ Tipe perempuan yang disukai John ini adalah yang berkulit hitam metalik seperti Naomi Campbell. πŸ˜€ Alasannya, perempuan berkulit hitam metalik itu cakep, eksotis. πŸ˜€ Hahaha… Kayak warna mobil aja, metalik. Hihihi. πŸ˜€

Kalau waktu istirahat tiba, kami sering nongkrong di perpustakaan. Si John ini akan melahap bacaan-bacaan dengan topik internasional. Kalau saya baca sastra Indonesia (baca:novel). πŸ˜€

John berhasil menggapai impiannya dengan lulus UMPTN ke UNPAD jurusan Hubungan Internasional. Jurusan yang memang sangat diminatinya. Dia pengen jadi Duta Besar katanya suatu hari nanti. πŸ™‚ Kalau saya tidak lulus UMPTN. Mungkin karena orangtua saya saat itu menentang jurusan yang saya ambil. Akhirnya saya terpaksa dengan sedih ‘ganti haluan’ mengambil jurusan yang mereka inginkan, dan saya pun ‘hidup segan mati tak mau’ menjawab soal-soalnya. Kalau tidak dikerjakan dengan hati, hasilnya pasti tidak maksimal. Begitulah kira-kira.

Tahun pertama si John kuliah, kami masih sering berkirim email. Hingga suatu hari John mengirim surat kepada saya disertai bunga edelweis kering. “Edelweis adalah bunga abadi, Mes. Semoga persabahatan kita pun seperti bunga edelweis ini, ya. Abadi selamanya,” tulisnya.

Setamat kuliah, John sempat bekerja untuk UNDP dan di NGO. Terakhir, dia bekerja di kedutaan Amerika Serikat di Jakarta.

Tahun 2010, John ditemukan telah meninggal di tempat kostnya. Menurut info yang saya dapat, John kena serangan jantung. Tinggal seorang diri, belum menikah, tak ada yang bisa menolongnya saat dia kena serangan itu. Memang John memiliki kecenderungan gemuk. Suka makan, tapi mungkin jarang olah raga. Dari foto-foto yang saya lihat di akun jaringan sosialnya, dia memang semakin gemuk dari saat terakhir kami bertemu di SMU.

Banyak teman yang merasa kehilangan. Bertanya-tanya, mengapa cepat sekali Tuhan panggil dia pulang? Mengapa orang baik matinya cepat, orang jahat nggak mati-mati? Tapi apa mau dikata, pasti itulah yang terbaik menurut Tuhan.

Filosofi hidupnya yang selalu saya ingat adalah: If your heart is empty, your brain doesn’t really matter. Terjemahan bebasnya: “Kalau hatimu kosong, otakmu nggak ada gunanya. Sepintar apa pun anda, tapi kalau nggak punya hati, sia-sialah semua yang anda kerjakan itu.”

Persahabatan kita abadi selamanya, John. Sampai bertemu lagi.

Advertisements

2 thoughts on “If Your Heart is Empty, Your Brain Doesn’t Really Matter

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s