Tentang Pendirian

A. “Anjing Menggonggong, Kafilah Berlalu”
Mungkin kita semua sudah sering mendengar peribahasa: “Anjing menggonggong, kafilah berlalu.” Saya pernah mengalami atau lebih tepatnya melihat “kejadian” ini semasa sekolah dulu.

Orangtua saya pernah mempunyai tukang kebun yang sudah lama bekerja pada mereka. Dari mulai kami belum lahir, hingga satu per satu pergi meninggalkan rumah untuk merantau, Uwak (panggilannya) ini masih bekerja untuk orangtua saya.

Suatu siang sepulang sekolah, saya mendengar anjing kami menggonggong dengan nyaringnya dan tak henti-henti. Setelah meletakkan tas, dari balik tirai kamar, saya melihat, si Bobo (nama anjing kami waktu itu) ternyata menggonggongi Uwak, yang sedang menyabit rumput pendek yang tak bisa terpotong oleh mesin pemotong rumput. Padahal sudah sekian lama (baca:bertahun-tahun) si Bobo dan Uwak saling “mengenal”, tapi koq malah digonggongi hari itu?

Saya tetap memerhatikan kejadian itu dari balik tirai kamar. Saya ingin tahu apakah:

1. Uwak akan mengusir si Bobo lalu melanjutkan menyabit, atau

2. Uwak akan tetap menyabit tanpa mempedulikan gonggongan si Bobo, atau

3. Uwak akan menyabit si Bobo, atau

4. Si Bobo akan menggigit Uwak.

Opsi 3 dan 4 nggak ada para pembaca yang budiman :D. Tentu saja saya kenal anjing saya dan Uwak saya. Uwak hanya menyabit rumput dan si Bobo hanya menggigit tulang belulang, bukan manusia, kecuali maling/penjahat :D.

Jadi opsi manakah yang terjadi? Ternyata Uwak memilih untuk tetap menyabit tanpa mempedulikan gonggongan si Bobo. Si Bobo dicuekin, tidak digubris sama sekali :D. Dan dengan satu gonggongan terakhir, “Guuk”, sambil membuang muka, si Bobo pergi meninggalkan Uwak karena dicuekin dan pastinya karena udah capek menggonggong. Huahaha :D. Tak tahan saya untuk tidak tertawa terbahak-bahak melihat kejadian itu dari balik tirai :D.

B. Bapak, Anak dan Keledai

Saya tak ingat kapan kali pertama saya mendengar cerita tentang bapak, anak dan keledai ini. Kisahnya kurang lebih seperti berikut:

Adalah seorang Bapak, Anak dan seekor keledai mereka, sedang melakukan perjalanan ke suatu tempat. Kemungkinan kejadian ini di Timur Tengah, soalnya entah kenapa tiap kali saya mendengar kata “keledai”, gambaran yang muncul di kepala saya adalah: padang pasir, baju panjang dan bertutup kepala (baik pria dan wanita).

Jadi dalam perjalanan mereka itu, mereka berjalan bersama-sama. Ketika mereka melewati perkampungan A, penduduk kampung itu menertawai mereka. Katanya, “Lihatlah bapak dan anak itu, bodoh sekali. Ada keledai tapi nggak dipakai.” Akhirnya si Bapak menaikkan anaknya ke atas keledai itu dan melanjutkan perjalanan mereka. Saat melewati perkampungan B, penduduk kampung itu berkata, “Ya ampun, koq tega banget anak itu duduk diatas keledai sedang bapaknya dibiarkan jalan.” Lalu si Bapak pun naik menggantikan anaknya. Sekarang anaknya yang berjalan kaki dan mereka melanjutkan perjalanan.

Setibanya di perkampungan C, penduduk kampung itu berkomentar, “Ya ampun, koq bapaknya tega sekali membiarkan anaknya jalan kaki, sedangkan dia enak-enakan di atas keledai.” Akhirnya si Bapak menaikkan si anak, dan sekarang mereka berdua duduk di atas keledai itu dan perjalanan pun masih berlanjut.

Hingga tiba di perkampungan D, penduduk kampung itu melihat mereka bertiga dan berkata, “Kasihan sekali keledai itu, teganya bapak dan anak yang duduk diatasnya!” Dan akhirnya Bapak dan Anak itu turun dari keledainya dan mereka berdua menggendong keledainya di pundak mereka sambil melanjutkan perjalanan. Orang-orang yang melihatnya pun menertawai mereka.

*****

Dari kedua kisah diatas, kira-kira yang manakah Anda? Apakah seperti Uwak yang berpendirian teguh walau anjing terus menggonggong? Ataukah seperti Bapak, Anak dan Keledainya yang kerap berganti pendirian, tergantung kepada “apa kata orang”? Atau tidak punya pendirian sama sekali?

Advertisements

17 thoughts on “Tentang Pendirian

    1. hahaaa bener itu kak, yg perlu ditanggapi ya ditanggapi, kalau tak perlu ya didiemin aja πŸ˜€ pokoke tujuan/pekerjaan kita selesai dgn baik πŸ˜‰ gimana persiapan pernikahannya kak? mudah-mudahan lancar semua yahhh. trims kak

      Like

  1. pernah dengar cerita yang kedua tentang bapak, anak dan keledai. Kalau aku seh lebih milih cerita pertama yak, biarlah anjing menggonggong.. Ya habis orang lain yang baru lihat kita mana tahu apa yang sebenarnya kita lakukan dan niatnya toh. πŸ˜€

    Like

    1. pokoke tujuan kita tercapai. “gonggongan” yg tak perlu dicuekin aja, daripada waktu habis buat nyuruh mereka diam, ya sudah biarin aja, toh kalau udah capek kan berhenti sendiri ya hihihiii πŸ˜€

      Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s