Jangan Main-Main dengan Perutmu

– Sebenarnya tubuh kita sudah memberi tanda kalau ada yang tidak beres didalamnya. Hanya saja, kita sering menganggap remeh hal yang sudah biasa, dan pada akhirnya kita tumbang. –


Perut Warisan

Saya termasuk orang yang memiliki perut sensitif. Saya mewarisinya dari kedua orangtua saya. Ayah saya asam lambungnya tinggi, Ibu saya kurang lebih seperti itu. Ayah saya sepertinya mewarisinya dari ompung boru (nenek) saya.

Kalau saya berpikir keras, makan pedas dan gorengan berlebihan, terlambat makan dan stres berlebihan, maka asam lambung ini akan naik. Lalu perut terasa panas, kembung, pokoknya tidak nyamanlah. Terakhir, bisa dipastikan akan segera muncul sariawan atau maag kambuh. Begitulah siklusnya selama ini.

Sakit Perut

Beberapa hari ini saya sakit, makanya tidak wara-wiri di dunia per-blog-an atau di dunia persilatan :D.

Hari Senin pagi, lebaran kedua, saya bangun pagi disambut dengan nyeri sendi di sekujur tubuh. Beberapa jam kemudian kepala saya sakit. Biasanya memang begitu urutannya. Saya pun menenggak sebutir Sanmol untuk meredakan nyeri sendi dan sakit kepala itu. Sekali lagi, hal itu biasanya manjur dan sakitnya tidak berlama-lama.

Hari Selasa, saya sarapan seperti biasa dengan nasi putih plus tomat, sayur, telur direbus sekaligus (saya senang masak yang cuma dicemplungin kayak begini :D, nggak ribet). Disambung makan siang dengan ikan bersantan dan tumis udang cabai, minus sayur. (Nggak sempat masak sayur karena sehabis sarapan dan beberes rumah, saya langsung belanja ke pasar, meskipun suami sudah melarang saya pergi karena saya masih kurang sehat. Tapi dasar ibu-ibu, kalau stok makanan dirumah sudah menipis, mesti dipaksakan juga pergi belanja, bagaimanapun keadaannya). Sorenya, kami menikmati potongan buah nanas, rambutan dan apel dengan sirup. Masih suasana lebaran soale πŸ˜€ (Alasan aja nih, lebaran nggak lebaran mah tetep aja makan beginian :D). Malamnya sebelum tidur, seperti biasa saya minum susu.

Tengah malam, sekitar jam dua belas kurang, saya diare. Hingga jam 4 pagi, saya diare lebih dari sepuluh kali. Saya pun lemas dan demam. Mau minum air putih, mulut saya sudah pahit dan asam. Mau minum oralit, tak ada stok dirumah. Di tengah kelemasan itu, saya teringat, kalau tak ada oralit, bisa diganti dengan melarutkan garam dan gula ke air putih. Tapi saya tak tahu bagaimana perbandingannya. Akhirnya saya meluncur ke situs gugel, dan menemukan “resepnya”. Pengganti oralit: Air putih matang 200 ml, garam 1/4 sdt, gula 1 sdt penuh.

Tak ada oralit, penggantinya pun jadilah. Pokoknya bisa diminum untuk menghentikan diarenya dan mengganti cairan yang hilang untuk sementara hingga pagi datang dan saya bisa pergi ke dokter.

Hari Rabu pagi pun datang. Disertai dengan perasaan mual, saya pun pergi ke klinik dan menemui dokter A. Saking sakitnya bagian perut saya di bawah dada, saya tak bisa berjalan tegak. Dokter A mengatakan kalau ulu hati saya sudah mengeras,Β makanya kenapa paling sakit di bagian itu. Sang dokter pun meresepkan Pharolit untuk diare, Sanmol untuk demam, De.. (saya lupa namanya, obat untuk lambung, obatnya sudah saya buang, karena saya semakin mual meminumnya), dan Lodia untuk mengeraskan feses. Beliau berpesan supaya saya mengunyah makanan sampai halus, jangan asal telan saja.

Saya jadi teringat dengan pelajaran Biologi dulu yang menyuruh kita supaya mengunyah makanan sebanyak 20 kali sebelum ditelan, kalau tak salah. Kadang saya memang melakukan itu kalau sedang tak lapar banget. Tapi kalau sudah kelaparan, boro-boro itu makanan dikunyah 20 kali, 3 kali saja sudah hebat :D. Memang rahang jadi capek dan makan jadi agak lama, tapi rupanya kalau mau pencernaan sehat, mesti begini caranya.

Selama saya dibesarkan oleh orangtua saya pun, mereka melarang kami anak-anaknya makan sambil minum. Karena kalau makan sambil minum, perut akan cepat kenyang, tapi kenyang air. Mengapa tak perlu minum? Karena pada air liur kita sudah ada enzim untuk melarutkan makanan itu ke dalam perut kita. Jadi tak perlu minum air. Air diminum setelah selesai makan saja. Itu masih saya praktekkan sampai sekarang. (Saya lupa nama enzimnya, silahkan cari di gugel dotcom atau cari di buku Biologi anda, ya :D).


Sekembalinya ke rumah, saya pun langsung minum Pharolit 3 bungkus dilarutkan dengan air sebanyak 600 ml. Tapi karena Pharolitnya rasa jeruk dan saya masih dalam keadaan mual, saya pun jadi TAMBAH mual begitu minum beberapa teguk. Tapi saya paksakan untuk menghabiskannya, karena pesan dokter harus dihabiskan dalam tempo setengah jam.

Setelah makan malam, saya kembali diare sebanyak sepuluh kali. Padahal saya merasa sudah mengikuti semua aturan makan makanan dan minum obat. Apakah saya diinfus saja dirumah sakit? Apakah saya masih tahan menunggu pagi dan pergi ke rumah sakit? Pikir saya malam itu. Perut saya sangat sakit. Belum pulih dari diare sebelumnya, tahu-tahu diserang lagi. Akhirnya malam itu setelah diare, saya makan lagi sedikit, minum Pharalit dan obat untuk lambung, lalu meringkuk tidur sambil merintih kesakitan. Syukurnya, saya akhirnya tertidur.

Hari Kamis pagi, saya pun memutuskan pergi ke rumah sakit Z. Kenapa saya tidak pergi ke rumah sakit Z di hari sebelumnya? Karena saya pikir buat apa pergi jauh-jauh ke rumah sakit kalau ada klinik dekat rumah yang bisa menyembuhkan saya… Begitu.. Tapi rupanya kondisi perut saya sedang “luar biasa” hingga “butuh” pergi ke rumah sakit.

Di rumah sakit saya menemui dokter B. Saya beritahukan semua keluhan saya kepada beliau dan waktu beliau memeriksa perut saya dan menekan-nekannya, saya nangis saking sakitnya :(. Hiks. Saya nggak pernah nangis kalau ke dokter, tapi kemarin tak sanggup untuk tak nangis :(.

Setelah periksa darah lengkap, dokter B pun meresepkan obat untuk lambung, antibiotik, dan untuk mual. Dokter sebelumnya, yaitu dokter A, sepertinya lupa memberi antibiotik kepada saya. Mungkin gara-gara itu makanya saya diare lagi.

Dokter B mengatakan kalau sampai Sabtu yaitu hari ini saya masih diare dan demam, maka saya harus datang lagi untuk periksa darah. Beliau takut kalau saya kena gejala demam berdarah atau liver. Juga beliau menyuruh saya untuk banyak makan dan minum serta istirahat.

Syukurlah, hingga sekarang saya berangsur membaik. Namun saya masih harus menjaga makanan. Belum bisa makan pedas seperti cabai merah yang enak ini.. Hmm.. Wanginya sungguh menggoda :(. Mesti tahan selera nih..

 

Penutup

Sekarang saya jadi “bersyukur” juga sudah kena diare. Karena sewaktu kita diare, berarti tubuh sedang berusaha melepaskan bakteri atau racun. Namun yang memperparah sakit perut saya kali ini adalah, nampaknya maag saya juga kambuh berat setelah perut kosong karena diare.

Seperti yang sudah saya jelaskan di awal tulisan, kalau terlambat makan, asam lambung naik, maag pun kambuh.

Dan akhirnya juga saya tahu apa yang menyebabkan diare muncul di Selasa malam itu. Tubuh yang memang sudah kurang sehat, ditambah dengan makan makanan bersantan, pedas dan asam serta susu, adalah kombinasi yang “cocok” untuk serangan diare. Perutnya kaget.

Mudah-mudahan hal seperti ini tidak terjadi lagi di masa mendatang. Kebanyakan ruginya. Saya kapok. Saya nggak bisa berjalan tegak beberapa hari. Wajah masam terus gara-gara menahan sakitnya perut. Gimana hati suami mau sejahtera melihat kita, kalau wajah istrinya masam terus menahan sakit? Kepala sakit. Tidur kurang nyaman. Kerja & berpikir nggak fokus. Hidup tak bergairahlah pokoknya.

Maka, para pembaca yang budiman, jagalah perut anda satu-satunya itu. Kalau tubuh sudah kurang sehat, tak usah sok kuat (pajago-jagohon bahasa Bataknya) mengerjakan ini dan itu; tolong didengar saran orang terdekat anda. Mereka memberi saran bukan karena iseng, tapi karena kasih. Makanlah kalau sudah waktunya makan, makan yang cukup dan bergizi. Dan tolong diperhatikan apa yang anda makan. Jangan asal telan saja makanan bersantan, pedas, asam sekaligus, kalau anda tak mau sakit perut. Makanan tolong dikunyah minimal 20 kali sebelum ditelan. Minum yang banyak. Tolong jangan minum cuma 2 gelas satu hari, kasihan ginjal anda itu, sudah kerjanya berat, anda cuma “melumasi”nya dengan 2 gelas air. Sungguh terlalu kalau kata Bang Rhoma. Kemudian, jaga kebersihan rumah anda, kamar anda, diri anda. Istirahat yang cukup. Terakhir, pergilah ke dokter yang benar kalau anda sakit, jangan ke dokter ecek-ecek.

Sekian dulu tulisan kali ini, semoga bermanfaat!

Advertisements

5 thoughts on “Jangan Main-Main dengan Perutmu

    1. sama2 bu :D.. coba aja kak, tapi makan sedikit saja sudah kenyang jadinya karna dikunyah 20 kali. Jadi katanya makin banyak kita mengunyah, enzim ptialin (kalau gak salah namanya ini) yg dikeluarkan pun makin banyak, makin baguslah gitu..

      Like

      1. Oooo gitu saya cuma ingat enzim Amilase yang dihasilkan kelenjar ludah untuk mengurai makanan, coba tanya google ehhh ternyata nama lain si Amilase adalah Enzim Ptialin (* mencobamengingatkembalimatakuliahBiokimia) πŸ˜€

        Like

    1. iya udah kak, mesti sering2 makan tapi nih πŸ˜€ makasi kak, sahali-sahali boi do pajago-jagohon, apalagi bortum, akka na jago do sude hahahahaaaa.. terjemahannya: sekali-sekali boleh koq sok jago, apalagi boru situmorang, jago2nya semua hahahahhahahaaa kabuuuuuur dikeroyok massa πŸ˜€

      Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s