Adat Batak dan Firman Tuhan

“Saudara-saudaraku janganlah kita menjadi orang yang sesat, memparadokskan antara Injil dengan adat istiadat, dan jangan melihat bahwa adat istiadat sebagai Agama. Hukum dan Firman Tuhan merupakan hubungan vertikal setiap orang yang percaya kepadanya sebagaimana hukum Tuhan yang pertama sampai dengan yang keempat.

Sedangkat adat istiadat adalah hubungan antara manusia secara horizontal tentang bagaimana manusia berbuat baik antar sesama dan menghindari hal-hal negatif dan salah, hal ini sangat jelas bisa diinterpretasikan pada hukum Tuhan yang kelima sampai dengan yang kesepuluh. Persoalan dalam adat istiadat ada yang tidak sesuai dengan Hukum dan Firman Tuhan, mari kita kesampingkan dan hilangkan. Dengan demikian janganlah kita melakukan penistaan terhadap diri sendiri. Mari kita puji dan sembah Yesus sekaligus sebagai Tuhan dan disisi lain kita junjung adat istiadat kita yang sejalan dengan Hukum dan Firman Tuhan. Karena semua manusia di dunia memiliki adat istiadat. Kalau tidak ada adat istiadatnya, berarti, maaf, itu adalah binatang.

Banggalah sebagai orang Batak yang menjunjung tinggi adat istiadatnya di muka bumi ini, orang yang lupa adat istiadat adalah seorang bunglon seperti air di daun talas. DALIHAN NATOLU semua orang mengakui merupakan suatu inspirasi dalam pergaulan yang diilhami oleh kebaikan-kebaikan dalam tradisi Batak.” -Arles Manik (sumbernya ini)

 

Beberapa tahun yang lalu (kira-kira antara tahun 2004-2008), saya pernah menjadi anti-adat Batak. Saya mengikuti satu aliran yang (tak usahlah saya sebut nama pimpinannya siapa) melarang/tidak lagi menggunakan adat Batak dalam setiap upacara entah itu pernikahan atau kematian atau kelahiran, tidak memakai ulos dan tidak menyebutkan ‘Allah’ sebagai sebutan untuk ‘Tuhan’.

Saya berapi-api menjelaskan kepada orang tua saya tentang keputusan saya yang baru itu. Pokoknya saya sangat banggalah mengatakan kepada mereka, kalau saya menikah nanti cukup diberkati di gereja saja dan resepsi. Orangtua saya tentu saja berang mendengarnya, dan menurut mereka jika orang Batak menikah tanpa adat Batak sama saja seperti binatang. Tapi saya tetap kukuh dengan pendirian saya tersebut.

Saya melihat begitu banyak keluarga Batak yang akhirnya berselisih paham dari mulai generasi nenek moyangnya hingga ke cicit-cicitnya (baca:tujuh generasi) gara-gara masalah adat ini. Adat Batak ini pun ribet sekali menurut saya. Bayangkan, dalam suatu pesta pernikahan yang dimulai dari pagi (baca: jam 4 pagi, karena pengantin dan keluarga harus bersiap jam segini, kalau telat, ya telatlah semua acara) biasanya berakhir hingga jam 8 malam. Saya kurang begitu hafal dengan urutan acaranya, tapi yang paling saya ingat adalah acara mangulosi (memberi ulos) kepada pengantin. Nah, acara mangulosi ini bisa berlangsung berjam-jam, tergantung besarnya keluarga itu. Semakin besar keluarga mempelai, semakin lama acara mangulosinya. Kira-kira seperti itu.

Lalu ada lagi yang menarik yaitu acara pembagian jambar (daging) kepada keluarga. Di sinilah sering muncul masalah menurut yang saya perhatikan selama ini. Sering terjadi, karena suatu keluarga tidak mendapat jambar, maka keluarga tersebut akan bermusuhan selamanya dengan keluarga yang berpesta tersebut. Ribet, kan kalau begitu jadinya? Karena hal-hal seperti itulah makanya dulu saya pun sempat berkeinginan untuk tidak menikah dengan orang Batak (orang mana aja bebas asalkan anak Tuhan).

Tapi kemudian di sekitar tahun 2008 -saya lupa tepatnya karena kejadian apa- saya terenyuk dengan pemikiran ini: “kalau bukan saya yang melestarikan budaya dan tradisi suku Batak, lalu siapa lagi?”. Tidak bisa saya harapkan orang lain. Harus dimulai dari diri saya sendiri. Dan akhirnya kecintaan saya kepada adat Batak itu pun kembali.

Menurut saya, segala sesuatu yang terdapat di adat Batak yang tidak sesuai dengan firman Tuhan (baca: Alkitab) itu, sebaiknya ditiadakan. Kitalah yang harus berubah, bukan firman Tuhannya yang diubah. Misalnya, jika dahulu ulos itu ditenun dengan doa-doa kepada ilah lain (orang Batak sebelum mengenal Yesus, menyembah Mula Jadi Na Bolon yang berada di Pusuk Buhit), maka sekarang, ulos itu ya ditenun biasa saja. Kalau tak ada lagi yang memakai ulos, ya hancurlah hidup para penenun ulos di Tapanuli sana (eh, bener kan masih disana sumbernya?). Lalu lambat laun, lenyaplah budaya dan tradisiΒ  Batak. Atau bisa jadi suatu saat nanti ulos itu pun diklaim Malaysia sebagai kain tradisional mereka, lalu kita di Indonesia hanya bisa gigit jari.. Saya harap tidak seperti itu akhirnya.

Jadi, para pembaca yang budiman, marilah kita junjung adat istiadat kita yang sejalan dengan firman Tuhan dan diatas segalanya, sembahlah Tuhan kita Yesus Kristus itu.

Selamat beradat!

Advertisements

6 thoughts on “Adat Batak dan Firman Tuhan

    • h0tchocolate says:

      hahahh.. makasi udah berkunjung ya to πŸ˜€ ditunggu kunjungan2 berikutnya, mudah2an dalam waktu dekat akan muncul postingan2 baru.. maklumlah, menejer rumah tangga banyak tugasnya πŸ˜€ horas !

      Like

  1. Pypy says:

    Lagi cari2 tau soal adat Batak dan menclok disini..hehe.. Ahh.. Saya aja yg bukan Batak tapi cinta sekali dgn adat istiadatnya.. Apalagi yg orang Batak sndiri kan?

    Salam kenal yah πŸ˜€

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s